Senin, 06 Juli 2009

METODE CLASS ROOM RESEARCH

METODOLOGI
1. Setting Penelitian

Setting penelitian perlu Anda uraikan secara rinci karena penting artinya bagi guru lain yang ingin meniru keberhasilan Anda. Mereka tentu akan mempertimbangkan masak-masak apakah ada kemiripan antara setting sekolahnya dengan setting penelitian Anda.

2. Perbedaan Mengajar Biasa dengan CAR

Dalam melakukan CAR kegiatan mengajar standar (biasa) berlangsung secara alami; tetapi ada bagian-bagian tertentu yang diberi perlakuan secara khusus dan diamati dampaknya secara seksama. Langkah-langkah seperti pembuatan satuan pelajaran, rencana pelajaran, lembaran kerja, dan alat bantu pembelajaran lainnya adalah langkah pembelajaran standar, bukan CAR. Asumsinya CAR dilaksanakan oleh guru yang sudah melaksanakan pembelajaran standar secara lengkap tetapi belum berhasil. Ia akan memodifikasi bagian-bagian tertentu dari pembelajaran standar itu. Bagian yang dimodifikasi itulah fokus dari CAR Anda.

3. Tahap Perencanaan

Tahap perencanaan CAR sebaiknya hanya menguraikan hal-hal yang berkaitan dengan CAR. Jika ada perubahan pada satuan pelajaran misalnya, hanya bagian yang diubah saja yang perlu diuraikan secara rinci. Akan lebih baik jika perubahan itu diletakkan dalam konteks satuan pelajaran aslinya sehingga terlihat jelas besar perubahan yang dilakukan. Perangkat-perangkat pembelajaran juga hanya tambahannya yang diuraikan secara rinci. Jika pembelajaran standar telah dilaksanakan dengan baik perangkat pembelajaran yang diperlukan untuk CAR dengan sendirinya sebagian besar sudah tersedia.
Yang sering terjadi dalam CAR selama ini pembelajaran standar belum dilaksanakan sehingga CAR menjadi wahana untuk mewujudkan pembelajaran standar. Hal itu terlihat dari latar belakang yang diuraikan secara emosional oleh peneliti, umumnya menggambarkan pembelajaran yang sangat tradisional, buruk, dan di bawah standar. Setelah sekolah mendapat bantuan dana peningkatan kualitas pembelajaran pun uraian latar belakang itu tidak menunjukkan adanya perubahan yang berarti. Secara tidak langsung ditunjukkan bahwa perlakuan-perlakuan yang diberikan oleh pemberi dana selama ini berlalu tanpa bekas.
Tahap perencanaan bisa memerlukan waktu setengah bulan karena harus mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan, termasuk di dalamnya adalah penyusunan jadwal, pembuatan instrumen, dan pemilihan kolaborator.
4. Siklus-siklus

Dalam CAR siklus merupakan ciri khas yang membedakannya dari penelitian jenis lain; oleh karena itu siklus harus dilaksanakan secara benar. Siklus pada hakikatnya adalah rangkaian “riset-aksi-riset-aksi- …” yang tidak ada dalam penelitian biasa. Dalam penelitian biasa hanya terdapat satu riset dan satu aksi kemudian disimpulkan. Dalam CAR hasil yang belum baik masih ada kesempatan untuk diperbaiki lagi sampai berhasil.

Siklus terdiri dari
(1) perencanaan
(2) pelaksanaan
(3) pengamatan
(4) refleksi
(5) perencanaan kembali.
Yang diuraikan dalam siklus hanya bagian yang dimodifikasi melalui action reseach, bukan seluruh proses pembelajaran. Modifikasi atau perubahan secara total jarang dilakukan dalam action research yang berskala kelas karena bagaimanapun sistem pendidikan secara umum masih belum berubah.
Misalnya Anda akan memodifikasi pembelajaran dengan memperbanyak penggunaan carta. Dalam “perencanaan” yang Anda uraikan adalah tentang carta itu saja, misalnya “Tiap pertemuan diusahakan akan ada carta yang digunakan dalam kelas.” Dalam “pelaksanaan” Anda uraikan kenyataan yang terjadi, apakah benar tiap pertemuan bisa digunakan carta, misalnya “Penggunaan carta tiap pertemuan hanya dapat dilakukan selama dua minggu pertama; minggu berikutnya rata-rata hanya satu carta tiap empat pertemuan.” Anda tentu saja dapat mengelaborasi “pelaksanaan” itu dengan menyebutkan carta-carta apa saja yang digunakan, saat-saat mana yang paling tepat untuk penggunaan, siapa yang menggunakan, berapa lama digunakan, berapa ukurannya, di mana disimpan, dsb., dsb. “Pengamatan” didominasi oleh data-data hasil pengukuran terhadap respons siswa, menggunakan berbagai instrumen yang telah disiapkan. “Refleksi” berisi penjelasan Anda tentang mengapa terjadi keberhasilan maupun kegagalan, diakhiri dengan perencanaan kembali untuk perlakuan pada siklus berikutnya.
Dalam action reseach selama ini banyak siklus yang bersifat semu, tidak sesuai dengan kaidah yang sudah baku. Inilah kelemahan-kelemahan yang terjadi.
1. Dalam siklus diuraikan semua proses pembelajaran, sehingga tidak dapat dilihat bagian yang sebenarnya sedang diteliti. Seolah-olah seluruh proses pembelajaran diubah secara total melalui CAR, dan sebelumnya pembelajaran berlangsung secara tradisional, buruk, dan di bawah standar.
2. Tidak jelas apakah perlakuan dalam suatu siklus dilakukan secara terus-menerus selama periode tertentu, sampai data pengamatan bersifat jenuh (menunjukkan pola yang menetap) dan diperoleh dari berbagai sumber (triangulasi). Sebagai analogi, jika selama satu minggu suhu badan pasien menunjukkan suhu 37,50 C; 370 C; 370 C; 37,50 C; 37,50 C; 37,50 C; dapatlah disimpulkan bahwa kondisinya telah kembali normal. Itu digabungkan dengan data pengamatan lain selama seminggu juga seperti perilaku, nafsu makan, dan denyut nadi pasien, yang bersifat triangulatif.
3. Siklus dilakukan tidak berdasarkan refleksi dari siklus sebelumnya. Ada siklus yang dilakukan secara tendensius: siklus pertama dengan metode ceramah, siklus kedua dengan demonstrasi, dan siklus ketiga dengan eksperimen, hanya ingin menunjukkan bahwa metode eksperimen adalah yang terbaik. Peneliti ini lupa bahwa metode harus disesuaikan dengan karakteristik materi pelajaran. Untuk materi pertama boleh jadi justru metode ceramah yang lebih cocok.
5. Instrumen
Instrumen merupakan bagian yang tidak kalah pentingnya dalam pelaksanaan CAR. Jenis instrumen harus sesuai dengan karakteristik variabel yang diamati. Triangulasi dan saturasi (kejenuhan informasi) perlu diperhatikan untuk menjamin validitas data.

KAJIAN TEORI

KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN
1. Kajian Teori

Dalam membuat rumusan masalah di atas sebenarnya Anda telah melakukan “analisis penyebab masalah” sekaligus membuat “hipotesis tindakan” yang akan diberikan untuk memecahkan masalah tersebut. Untuk melakukan analisis secara tajam dan menjustifikasi perlakuan yang akan diberikan, Anda perlu merujuk pada teori-teori yang sudah ada. Tujuannya sekedar meyakinkan bahwa apa yang Anda lakukan dapat dipertanggungjawabkan secara profesional. Dalam hal ini proses kolaborasi memegang peranan yang sangat penting.
Anda juga perlu membaca hasil penelitian terakhir, termasuk CAR, siapa tahu apa yang akan Anda lakukan sudah pernah dilakukan oleh orang lain; Anda dapat mengambil manfaat dari pengalaman orang itu. Manfaat lain yang lebih penting, Anda akan mengetahui trend-trend baru yang sedang diperhatikan atau diteliti oleh para guru di seluruh dunia. Sekarang ini sedang nge-trend pembelajaran yang bernuansa quantum teaching, quantum learning, contextual learning, integrated curriculum, dan competency based curriculum yang semua berorientasi pada kepentingan siswa. Jika penelitian Anda masih berkutat pada pemberian drill dan PR agar nilai UAN mereka meningkat, tanpa memperdulikan rasa ketersiksaan siswa, profesionalisme Anda akan dipertanyakan.

2. Hipotesis Tindakan

Lakukanlah analisis penyebab masalah secara seksama agar tindakan yang Anda rencanakan berjalan dengan efektif. Hipotesis tindakan dapat Anda tuliskan secara eksplisit, tetapi dapat juga tidak karena pada dasarnya Anda belum tahu tindakan mana yang akan berdampak paling efektif.
IDENTIFIKASI, PEMILIHAN, DESKRIPSI, DAN RUMUSAN MASALAH

1. Identifikasi Masalah
Dalam mengidentifikasikan masalah, Anda sebaiknya menuliskan semua masalah yang Anda rasakan selama ini.

2. Pemilihan Masalah

Anda tidak mungkin memecahkan semua masalah yang teridentifikasikan itu secara sekaligus, dalam suatu action research yang berskala kelas. Masalah-masalah itu berbeda satu sama lain dalam hal kepentingan atau nilai strategisnya. Masalah yang satu boleh jadi merupakan penyebab dari masalah yang lain sehingga pemecahan terhadap yang satu akan berdampak pada yang lain; dua-duanya akan terpecahkan sekaligus. Untuk dapat memilih masalah secara tepat Anda perlu menyusun masalah-masalah itu berdasarkan kriteria tersebut: tingkat kepentingan, nilai strategis, dan nilai prerekuisit. Akhirnya Anda pilih salah satu dari masalah-masalah tersebut, misalnya “Siswa tidak dapat melihat hubungan antara mata pelajaran yang satu dengan yang lain.”
3. Deskripsi Masalah

Setelah Anda memilih salah satu masalah, deskripsikan masalah itu serinci mungkin untuk memberi gambaran tentang pentingnya masalah itu untuk dipecahkan ditinjau dari pengaruhnya terhadap pembelajaran secara umum maupun jumlah siswa yang terlibat.
Contoh: “Jika diberi pelajaran dengan pendekatan terpadu antara geografi, ekonomi, dan sejarah siswa merasa sukar mentransfer keterampilan dari satu pelajaran ke pelajaran lain. Pelajaran yang saya berikan adalah geografi, tetapi saya sering mengaitkan pembahasan dengan mata pelajaran lain seperti ekonomi dan sejarah. Ketika saya minta siswa mengemukakan hipotesis tentang pengaruh Danau Toba terhadap perkembangan ekonomi daerah, siswa terasa sangat bingung; padahal mereka telah dapat mengemukakan hipotesis dengan baik dalam mata pelajaran geografi. Saya khawatir siswa hanya menghafal pada saat dilatih mengemukakan hipotesis. Padahal dalam kehidupan sehari-hari keterampilan berhipotesis harus dapat diterapkan di mana saja dan dalam bidang studi apa saja. Pada hakikatnya setiap hari kita mengemukakan hipotesis. Ketidakbisaan siswa itu terjadi sepanjang tahun, tidak hanya pada permulaan tahun ajaran. Kelihatannya semua siswa mengalami hal yang sama, termasuk siswa yang cerdas. Guru lain ternyata juga mengalami hal yang sama, siswanya sukar mentransfer suatu keterampilan ke mata pelajaran lain.”

4. Rumusan Masalah

Setelah Anda memilih satu masalah secara seksama, selanjutnya Anda perlu merumuskan masalah itu secara komprehensif dan jelas. Sagor (1992) merinci rumusan masalah action research menggunakan lima pertanyaan:

  1. Siapa yang terkena dampak negatifnya?

  2. Siapa atau apa yang diperkirakan sebagai penyebab masalah itu?

  3. Masalah apa sebenarnya itu?

  4. Siapa yang menjadi tujuan perbaikan?

  5. Apa yang akan dilakukan untuk mengatasi hal itu? (tidak wajib, merupakan hipotesis tindakan).
Contoh rumusan masalah:

  • Siswa di SLTP-X tidak dapat melihat hubungan antara mata pelajaran yang satu dengan yang lain di sekolah (Ini menjawab pertanyaan 1 dan 3)

  • Grup action research percaya bahwa hal ini merupakan hasil dari jadwal mata pelajaran dan cara guru mengajarkan materi tersebut (Ini menjawab pertanyaan 2)

  • Kita menginginkan para siswa melihat relevansi kurikulum sekolah, mengapresiasi hubungan antara disiplin-disiplin akademis, dan dapat menerapkan keterampilan yang diperoleh dalam satu mata pelajaran untuk pemecahan masalah dalam mata pelajaran lain (Ini menjawab pertanyaan 4)

  • Oleh karena itu kita merencanakan integrasi pembelajaran IPA, matematika, bahasa, dan IPS dalam satuan pelajaran interdisiplin berjudul Masyarakat dan Teknologi (Ini manjawab pertanyaan 5)

Contoh pertanyaan penelitian:

  • Kesulitan apa yang dialami siswa dalam mentransfer keterampilan dari satu mata pelajaran satu ke mata pelajaran lain?

  • Apakah siswa dapat mentrasfer keterampilan lebih mudah antara dua mata pelajaran yang disukai?

  • Apa yang menyebabkan siswa menyukai suatu mata pelajaran?

  • Apakah ada perbedaan antara prestasi belajar siswa yang belajar dalam kelas mata pelajaran multidisiplin dibandingkan dengan mereka yang dalam kelas mata pelajaran tunggal?

Minggu, 05 Juli 2009

MASALAH YANG DIBICARAKAN DALAM CAR / PTK

MASALAH CAR
(THE PROBLEM IN CLASSROOM ACTION RESEARCH)

Berikut ini merupakan hal-hal yang perlu dipertimbangkan pada saat menentukan masalah CAR.

1. Banyaknya Masalah yang Dihadapi Guru

Setiap hari guru mengahadapi banyak masalah, seakan-akan masalah itu tidak ada putus-putusnya. Oleh karena itu guru yang tidak dapat menemukan masalah untuk CAR sungguh ironis. Merenunglah barang sejenak, atau ngobrollah dengan teman sejawat, Anda akan segera menemukan kembali seribu satu masalah yang telah merepotkan Anda selama ini.

2. Tiga Kelompok Masalah Pembelajaran

Masalah pembelajaran dapat digolongkan dalam tiga kategori, yaitu :
  • pengorganisasian materi pelajaran,
  • penyampaian materi pelajaran, dan
  • pengelolaan kelas.
Jika Anda berfikir bahwa pembahasan suatu topik dari segi sejarah dan geografi secara bersama-sama akan lebih bermakna bagi siswa daripada pembahasan secara sendiri-sendiri, Anda sedang berhadapan dengan masalah pengorganisasian materi. Jika Anda suka dengan masalah metode dan media, sebenarnya Anda sedang berhadapan dengan masalah penyampaian materi. Apabila Anda menginginkan kerja kelompok antar siswa berjalan dengan lebih efektif, Anda berhadapan dengan masalah pengelolaan kelas. Jangan terikat pada satu kategori saja; kategori lain mungkin mempunyai masalah yang lebih penting.

3. Masalah yang Berada di Bawah Kendali Guru

Jika Anda yakin bahwa ketiadaan buku yang menyebabkan siswa sukar membaca kembali materi pelajaran dan mengerjakan PR di rumah, Anda tidak perlu melakukan CAR untuk meningkatkan kebiasaan belajar siswa di rumah. Dengan dibelikan buku masalah itu akan terpecahkan, dan itu di luar kemampuan Anda. Dengan perkataan lain yakinkan bahwa masalah yang akan Anda pecahkan cukup layak (feasible), berada di dalam wilayah pembelajaran, yang Anda kuasai. Contoh lain masalah yang berada di luar kemampuan Anda adalah: Kebisingan kelas karena sekolah berada di dekat jalan raya.

4. Masalah yang Terlalu Besar

Nilai UAN yang tetap rendah dari tahun ke tahun merupakan masalah yang terlalu besar untuk dipercahkan melalui CAR, apalagi untuk CAR individual yang cakupannya hanya kelas. Faktor yang mempengaruhi Nilai UAN sangat kompleks mencakup seluruh sistem pendidikan. Pilihlah masalah yang sekiranya mampu untuk Anda pecahkan.

5. Masalah yang Terlalu Kecil

Masalah yang terlalu kecil baik dari segi pengaruhnya terhadap pembelajaran secara keseluruhan maupun jumlah siswa yang terlibat sebaiknya dipertimbangkan kembali, terutama jika penelitian itu dibiayai oleh pihak lain. Sangat lambatnya dua orang siswa dalam mengikuti pelajaran Anda misalnya, termasuk masalah kecil karena hanya menyangkut dua orang siswa; sementara masih banyak masalah lain yang menyangkut kepentingan sebagian besar siswa.

6. Masalah yang Cukup Besar dan Strategis

Kesulitan siswa memahami bacaan secara cepat merupakan contoh dari masalah yang cukup besar dan strategis karena diperlukan bagi sebagian besar mata pelajaran. Semua siswa memerlukan keterampilan itu, dan dampaknya terhadap proses belajar siswa cukup besar. Sukarnya siswa berkonsentrasi dalam mengikuti pelajaran, dan ketidaktahuan siswa tentang meta belajar (belajar bagaimana belajar) merupakan contoh lain dari masalah yang cukup besar dan strategis. Dengan demikian pemecahan masalah akan memberi manfaat yang besar dan jelas.

7. Masalah yang Anda Senangi

Akhirnya Anda harus merasa memiliki dan senang terhadap masalah yang Anda teliti. Hal itu diindikasikan dengan rasa penasaran Anda terhadap masalah itu dan keinginan Anda untuk segera tahu hasil-hasil setiap perlakukan yang diberikan.
8. Masalah yang Riil dan Problematik

Jangan mencari-cari masalah hanya karena Anda ingin mempunyai masalah yang berbeda dengan orang lain. Pilihlah masalah yang riil, ada dalam pekerjaan Anda sehari-hari dan memang problematik (memerlukan pemecahan, dan jika ditunda dampak negatifnya cukup besar).

MODEL-MODEL ACTION RESEARCH

B. MODEL – MODEL ACTION RESEARCH


Model Kurt Lewin menjadi acuan pokok atau dasar dari berbagai model action research, terutama classroom action research. Dialah orang pertama yang memperkenalkan action research. Konsep pokok action research menurut Kurt Lewin terdiri dari empat komponen, yaitu :
(1) perencanaan (planning),
(2) tindakan (acting),
(3) pengamatan (observing), dan
(4) refleksi (reflecting).
Hubungan keempat komponen itu dipandang sebagai satu siklus.
Model Kemmis & Taggart merupakan pengembangan dari konsep dasar yang diperkenalkan Kurt lewin seperti yang diuraikan di atas, hanya saja komponen acting dan observing dijadikan satu kesatuan karena keduanya merupakan tindakan yang tidak terpisahkan, terjadi dalam waktu yang sama

PENGERTIAN ACTION RESEARCH



PENELITIAN TINDAKAN KELAS
(Classroom Action Research)

A. PENGERTIAN


Classroom action research (CAR) adalah action research yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas. Action research pada hakikatnya merupakan rangkaian “riset-tindakan-riset-tindakan- …”, yang dilakukan secara siklik, dalam rangka memecahkan masalah, sampai masalah itu terpecahkan. Ada beberapa jenis action research, dua di antaranya adalah individual action research dan collaborative action research (CAR). Jadi CAR bisa berarti dua hal, yaitu classroom action research dan collaborative action research; dua-duanya merujuk pada hal yang sama.
Action research termasuk penelitian kualitatif walaupun data yang dikumpulkan bisa saja bersifat kuantitatif. Action research berbeda dengan penelitian formal, yang bertujuan untuk menguji hipotesis dan membangun teori yang bersifat umum (general). Action research lebih bertujuan untuk memperbaiki kinerja, sifatnya kontekstual dan hasilnya tidak untuk digeneralisasi. Namun demikian hasil action research dapat saja diterapkan oleh orang lain yang mempunyai latar yang mirip dengan yang dimliki peneliti.

Perbedaan antara penelitian formal dengan classroom action research disajikan dapat dilihat
sebagai berikut :

Penelitian Formal
  • Penelitian Formal
  • Dilakukan oleh orang lain
  • Sampel harus representatif
  • Instrumen harus valid dan reliabel
  • Menuntut penggunaan analisis statistic
  • Mempersyaratkan hipotesis
  • Mengembangkan teori
Classroom Action Research
  • Dilakukan oleh guru/dosen
  • Kerepresentatifan sampel tidak diperhatikan
  • Instrumen harus valid dan reliabel
  • Menuntut penggunaan analisis statistic
  • Tidak selalu menggunakan hipotesis
  • Memperbaiki praktik pembelajaran secara langsung

Kamis, 25 Juni 2009

ACTION RESEARCH FOR ESL TEACHING

Improving Teacher-Student Interaction
in the EFL Classroom: An Action Research Report
by Jonathan Snell


A common problem for EFL teachers is dealing with a passive class, where students are unresponsive and avoid interaction with the teacher. This is especially true when a teacher seeks interaction in a teacher-class dialog, such as asking questions to the class as a whole, expecting at least one student to respond. This can be a frustrating experience for both parties. Obviously, there will be times when no student can answer a teacher's question, but often students do not answer even if they understand the question, know the answer, and are able to produce the answer. Furthermore, students can often be very reluctant to give feedback or ask the teacher a question in front of the class. This action research project attempted to explore this problem and sought to create a more interactive teacher-class interchange in one class of Japanese adult English learners.
Action Research Defined

Action research is concerned with trying to improving one specific point in a teacher's technique in a particular classroom using empirical measurement. Richards, Platt & Platt (1992) have defined it as:

Teacher-initiated classroom research which seeks to increase the teacher's understanding of classroom teaching and learning and to bring about improvements in classroom practices. Action research typically involves small-scale investigate projects in the teacher's own classrooms. This usually includes having an observer collect data, and together with the teacher develop a plan to bring about the desired change, act on the plan, and then observe the effects of the plan in the classroom.
Class Description
The class observed was a group of twenty-three sophomores majoring in Japanese at a small private Tokyo women's college. The teacher was an American male with several years teaching experience at Japanese universities. The goal of this required class is to teach the students basic English conversation, reading, listening and writing skills. Their English ability level ranged from upper beginner to intermediate. During the observation period, the students appeared motivated and attentive, and they seemed to be enjoying the class.

Problem Identification
The students, as a class, didn't respond voluntarily to the instructor's questions and did not participate in class discussions. Students also never asked the teacher questions outside one-on-one situations. Thus the teacher received little oral feedback. According to the teacher:
Most of the class members sit looking straight ahead using minimal facial expressions, gestures and verbal utterances. What I want is for the students to be more demonstrative and more overtly communicative in their feedback. I want these behaviors: I want the students to ask questions, make comments and to respond with nods and shakes of the head, with sounds of agreement or sounds of understanding. Also, I want them to be both reactive and proactive.

Preliminary Investigation
I observed the teacher's class in the fourth week of the semester. In the first 45 minutes, the class went through an intermediate level taped dialogue. The students first listened to the tape with their books closed, then again with the books opened. Next, they did a dictation exercise consisting of 25 short sentences based on the dialogue. The teacher then talked about the sociolinguistic and grammar points of the exercise and went on to probe for comprehension:

T : Any questions? Do you understand everything?
Ss : Š(no one responds)
T : Okay, how many people were speaking?
Ss : Š(no response)
T : How many people were speaking?
Ss : Š(no response)
T : There were two. Two people. Were they friends or strangers?
Ss : Š(no response)Š


The teacher asked a few other questions which also drew no response or reaction from the students. The students then had to answer some questions about the conversation in their book. Most of the students seemed to have little trouble doing this, and if there were any questions, they readily asked the student sitting next to them.
The second half of the class was devoted to pair work using the phrases and vocabulary from the taped dialogue in role play. The students seemed to enjoy this, and most tried to create their own dialogues. The teacher circulated the room checking on the progress of each pair. The class atmosphere was markedly different from the first half of the class, with chatter and occasional laughter filling the air. The students answered most of the teacher's questions with alacrity, and some even asked their own questions.

Hypothesis

Because the students seemed to generally understand the teacher's questions, it was felt that there was something else that kept the students from responding voluntarily in the class-teacher dialogues. Since most Japanese students are taught to listen and not to question a teacher in class, Japanese students have little or no experience in in-class interaction with the teacher, such as questioning or commenting or giving feedback. Students are usually taught to be quiet and respectfully listen to the teacher.

By teaching the students that class interaction with the English teacher is not only acceptable, but normal, useful and beneficial, it was believed that the students would become more interactive with the teacher in teacher-class interaction.

Plan Intervention

Following the hypothesis, two steps were taken to implement a plan:
First, on the following class, the teacher distributed an explanatory paragraph about "rules" for asking questions in class in English speaking countries. The teacher made an exercise out of it and had students read the paragraph out loud to the class and explained a few difficult words and spent additional time expanding on the text. The "rules" were extrapolated from a culture point in Helgesen & Brown (1994) and were as follows:
Each culture has different "rules" about how students should act in the classroom. In some countries, students are expected to listen and only the teacher should lecture or talk in class. But in English-speaking countries (and in English class), it is good-and important-to answer the teacher's questions and interrupt with questions of your own. It means that you are interested and paying attention. In English, it is your job to ask questions if you don't understand. (p. 3)
The teacher went on to say that if they still felt uncomfortable asking and answering questions, they had to at least nod or shake their head as a response to the teacher's questions.
Secondly, the teacher reminded the students of the "rules" at the beginning of each subsequent class and further encouraged them to become more active in the class when the instructor was talking.

Outcome

In the eighth week of the semester, the class was observed again. A lesson similar to the one in the fourth week was presented. At the beginning, the instructor reminded the class of the "rules." After playing the taped dialogue twice, the teacher began talking about the dialogue, making grammar, usage and sociolinguistic points, interspersed with questions about the passage and the instructor's explanations. This went on for about twenty minutes and included general comprehension check questions such as 'do you understand?' and 'are you okay?' as well as specific questions about the dialogue.

Regarding general comprehension questions, most of the students did nod in response and a few answered 'yes' to these questions. And it was believed that they did, in fact, understand.
With the specific questions, however, something unexpected happened. When the teacher asked a question, he was usually greeted with poker-faced stares, as before. But when he moved closer, looked specifically at a student, or pair of students, and repeated the question, the students usually tried to answer. In general, I noted, the instructor was paying much more attention to the students, moving closer to them, and looking at specific students and trying to make a better connection with them. Instead of asking questions with the feeling that they really weren't going to be answered anyway, as before, the teacher made a greater effort to communicate the questions, and acted as if he expected to get responses.
Also, toward the end of the instructor's talk on the dialogue, two students, without prompting from the teacher, asked questions before the class. Although the questions were not related directly to the dialogue, the fact that the questions were asked before the entire class was considered a breakthrough.

Conclusion

There were some areas where the results of this action research were not as successful as hoped. For instance, the students needed to be prompted with eye contact and a repeated question from the teacher to answer a question, and when they did not understand something, they still did not interrupt the teacher with a question.
And yet some progress was definitely made, especially when the brief span between observations is considered. The students did interact with the teacher by nodding, some did answer the instructor's questions, and two, on their own initiation, even asked questions before the class. The unanticipated side effect of the teacher becoming more concerned with the interaction was a welcome surprise and contributed to the improvement. There seems to have been some success in instructing and reminding and then expecting the students to become more interactive with the teacher.

Reflection

This action research project forced both the teacher and the observer to remember that ESL teachers in Japan are not just teaching a language, but also a culture, and this includes instructing the sociolinguistics appropriate for the native English speaking classroom. Perhaps more importantly, they had to think about why the cultures are different, in this respect, and how to try and bridge that difference. This lead to questioning the conventional notion that Japanese students simply do not like the native English speaking classroom culture.
An additional reason for interest in the problem addressed here was the belief that this was a common problem in Japan. Teachers, especially native English speaking ones, often become frustrated with a lack of initial success in obtaining an interactive dialogue with the class. This often leads them to mistake a lack of familiarity with a lack of interest, and to teach within the students' culturally conditioned classroom expectations, instead of introducing the expectations commonly found in classrooms in English speaking counties. While intending to be more accommodating to students, they are failing to give students a useful sociolinguistic skill, which students would likely want and derive benefit. Some may think encouraging the use of this student-teacher interaction common in native English speaking counties is culturally arrogant. But if it is introduced in a sensitive and reasonable manner, it actually contributes to a more fulfilling English class. After all, most students don't study English just for linguistic competence. They will also want to develop sociolinguistic competence for communicating in different situations in English speaking countries, and this includes the classroom.

Reference
Helgesen, M. & Brown, S. (1994) Active listening: Building skills for understanding. Melbourne: Cambridge University Press.
Richards, J. C., Platt, J., & Platt, H. (1992) Dictionary of language teaching & applied linguistics (2nd ed.). Essex: Longman.